KPK Panggil Direktur Utama PT Pilog Terkait Kasus Suap Bowo Sidik

By PUBinfo Redaksi 15 Mei 2019, 10:19:38 WIB | dibaca : 45 pembaca

KPK Panggil Direktur Utama PT Pilog Terkait Kasus Suap Bowo Sidik

Foto: Gedung KPK (Agung Pambudhy)

Jakarta - Penyidik KPK memanggil Dirut PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) Ahmadi Hasan. Ahmadi dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi berkaitan dengan kasus suap yang menjerat anggota DPR Bowo Sidik Pangarso.

"Dipanggil sebagai saksi," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Rabu (15/5/2019).

Selain Ahmadi, penyidik memanggil 2 orang saksi lain yakni Direktur Administrasi dan Keuangan PT Pupuk Indonesia Logistik Teguh Hidayat Purbono dan Marketing pada PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Beny Widaya. Mereka dipanggil sebagai saksi untuk tersangka Asty Winarti, yang merupakan Marketing Manager PT HTK.

Selain Aas Asikin, KPK juga memanggil pemilik PT Tiga Macan Steven Wang dan pihak swasta Agus Rustiana. Mereka semua dipanggil sebagai saksi untuk tersangka Asty Winasti.

Dalam pusaran perkara ini Bowo diduga KPK menerima suap dari Asty Winasti. KPK menduga suap itu diberikan agar PT HTK kembali mendapatkan kerja sama dengan anak usaha PT PIHC, yaitu PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dalam hal distribusi pupuk.

Asty disebut KPK memberikan uang kepada Bowo melalui Indung yang disebut sebagai orang kepercayaan Bowo. KPK menduga Bowo sudah menerima Rp 1,6 miliar dari Asty dalam 7 kali pemberian. Jumlah itu terdiri atas Rp 221 juta dan USD 85.130 dalam 6 kali pemberian serta Rp 89,4 juta sebagai pemberian ketujuh pada saat operasi tangkap tangan (OTT).

Selain itu, Bowo diduga menerima gratifikasi yang totalnya Rp 6,5 miliar. Sumber pemberi gratifikasi itu, setelah ditelusuri KPK, salah satunya melalui berbagai penggeledahan, dari kantor dan kediaman Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita serta ruang kerja anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat M Nasir.

 

Sumber : detik.com

View all comments

Write a comment

(Input Kode Di Samping Dengan Benar)